
Pakaian adat Sumbawa atau Pangkenang Adat Samawa (dalam Bahasa Sumbawa) dalam tata cara pemakaiannya selama ini memiliki banyak perbedaan serta belum sepenuhnya sempurna. Berbagai bentuk dan gaya pakaian adat Samawa merupakan keragaman tata busana yang memperlihatkan tingginya cita rasa berbusana Tau Samawa (orang Sumbawa).
Melalui proses pengkajian dan standarisasi yang dilakukan oleh Tim Pengkaji Lembaga Adat Tana Samawa, dihasilkan standarisasi yang menjadi pedoman dalam berbusana adat Sumbawa. Hasil pengkajian tersebut melahirkan beberapa jenis pakaian adat dan kombinasi. Secara umum masih mempertahankan bentuk khasnya, meskipun pada beberapa bagian telah disesuaikan dengan kelengkapan lain untuk memenuhi nilai religiusitas, seperti pemakaian dalaman, jilbab dasar, dan lainnya.
Hasil kajian dan standarisasi tersebut membagi ragam dan jenis Pangkenang Adat Samawa sebagai berikut.
1. Pangkenang Lonas Pabite
Lonas Pabite berarti remaja yang bergaya atau gaya remaja. Pangkenang adat ini diperuntukkan bagi remaja dan pemuda, dikenakan dalam berbagai kesempatan budaya serta penyambutan tamu, baik di dalam maupun di luar daerah.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko mako turen den, pabasa alang salempang lipat dua, kere alang dikenakan dengan cara “tepong gadu” yaitu melipat kain di pinggang kiri dan kanan lalu diberi parabat, dengan panjang kain sekitar 10 cm di bawah lutut. Dilengkapi lamung taruna lengan, saluar belo, parabat, salepe, serta alas kaki berupa sepatu sandal atau sepatu.
Pakaian wanita terdiri dari sapu kidasanging yang diletakkan di atas sanggul punyung belakang, lamung pene dengan hiasan teknik border atau payet (cepo/cila), kere alang, bebat (stagen), dan parabat. Aksesori meliputi kemang bagegar atau kemang kanentek (tiga batang), bengkar tarowe (anting), kemang sumping, tonang mastora (kalung), ponto (gelang), salepe, serta alas kaki berupa selop terbuka.

2. Pangkenang Lonas Panemu
Lonas Panemu berarti remaja atau pemuda yang mengikuti atau menghadiri suatu kegiatan. Pakaian ini diperuntukkan bagi remaja dan kaum muda yang belum menikah, dikenakan dalam berbagai kesempatan budaya dan penyambutan tamu.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko mako turen den atau layar pele, pabasa alang salonang dengan empat lipatan, kere alang dikenakan dengan cara “tepong gadu”, lamung taruna lengan panjang, saluar belo, parabat, salepe, serta alas kaki berupa sepatu sandal atau sepatu.
Pakaian wanita terdiri dari sapu kidasanging yang disampirkan di bahu kiri, lamung pene dengan hiasan teknik border atau payet (cepo/cila), kere alang, parabat, bebat (stagen), serta aksesori berupa kemang bagegar atau kemang kanentek, bengkar tarowe, kemang sumping, tonang mastora, ponto, salepe, dan alas kaki selop terbuka.

3. Pangkenang Salonang Antin
Salonang Antin diambil dari cara pemakaian pabasa alang atau salempang pada pakaian pria. Pangkenang adat ini dikenakan dalam berbagai kesempatan budaya dan penyambutan tamu.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko baringin nyungkar, pabasa alang salonang dengan empat lipatan, kere alang dikenakan dengan cara “tepong belo”, lamung kurung, parabat, salepe, serta alas kaki berupa sepatu sandal atau sepatu.
Pakaian wanita terdiri dari cipo cila, lamung pene dengan hiasan teknik border atau payet, kere alang, bebat (stagen), parabat, memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop terbuka, serta aksesori berupa pasak atau bengkar bagi yang tidak berjilbab, tonang mastora, dan ponto.

4. Pangkenang Rama Nempu
Rama berarti khalayak atau masyarakat umum. Pangkenang Rama Nempu digunakan oleh pemuda, pemudi, serta kalangan dewasa dalam berbagai acara budaya.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko pamale, pabasa alang salempang lipat dua, kere alang “tepong belo”, lamung taruna lengan panjang, parabat, salepe, dan alas kaki berupa sepatu sandal atau sepatu.
Pakaian wanita terdiri dari cipo cila, lamung pene dengan hiasan border atau payet, kere alang, bebat (stagen), alas kaki selop terbuka, serta aksesori berupa pasak atau bengkar bagi yang tidak berjilbab, karabu (bros), dan memakai jilbab dasar serta dalaman (muslimah).

5. Pangkenang Pajatu Juran
Pajatu Juran berarti pengatur atau penguasa wilayah. Pakaian adat ini dikenakan oleh panitia, pengatur kegiatan, atau pejabat wilayah seperti kelurahan dan desa.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko kampung, pabasa alang salempang lipat empat, kere alang tepong belo, lamung tutup (jas tutup), parabat, salepe, serta alas kaki berupa sepatu sandal atau sepatu.
Pakaian wanita terdiri dari cipo cila, lamung kurung bela dada, kere alang, bebat (stagen), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop, serta aksesori berupa karabu (bros).

6. Pangkenang Pasak Panempu
Pasak Kanadi dimaknai sebagai tokoh yang memiliki kedudukan dalam masyarakat. Pakaian adat ini dikenakan oleh tokoh dan sesepuh dalam berbagai kesempatan adat dan budaya.
Pakaian pria terdiri dari katopong berwarna keemasan dengan hiasan buku bambang tanpa pucuk, lamung tutup warna terang seperti krem, coklat susu, coklat keemasan, hijau muda, dan biru muda. Dilengkapi kere alang tepong belo, rantai saku, parabat, salepe, serta alas kaki sandal atau sepatu sandal.
Pakaian wanita terdiri dari sarangan cila, lamung kurung, kere alang, bebat (stagen), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop terbuka, serta aksesori berupa karabu (bros).

7. Pangkenang Pasak Kanadi
Pakaian ini dikenakan oleh tokoh masyarakat ketika menghadiri atau mengikuti acara budaya dan seremonial.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko mako turen den, lamung kurung warna terang, kere alang tepong belo, rantai saku, parabat, salepe, serta alas kaki sandal atau sepatu sandal.
Pakaian wanita terdiri dari cipo cila, lamung pene, kere alang, bebat (stagen), aksesori karabu (bros), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), serta alas kaki selop terbuka.

8. Pangkenang Lante Lumar
Pangkenang ini diperuntukkan bagi tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh budaya yang dituakan.
Pakaian pria terdiri dari katopong warna hitam dengan hiasan buku bambang sopo antin, lamung tutup warna gelap, kere alang tepong belo, parabat, salepe, alas kaki sandal atau sepatu sandal, serta rantai saku.
Pakaian wanita terdiri dari sarangan cila (selendang bersulam), kebaya kurung, kere alang, bebat (stagen), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop terbuka, serta aksesori karabu (bros).

9. Pangkenang Manca Kanadi
Pakaian adat ini dikenakan pada acara yang tidak terlalu resmi seperti upacara adat atau kegiatan budaya.
Pakaian pria terdiri dari sapu alang tokko lete mega atau mako turen den, lamung tutup warna gelap, kere alang tepong belo, parabat, salepe, alas kaki sandal atau sepatu sandal, serta rantai saku.
Pakaian wanita terdiri dari cipo cila, lamung pene, kere alang, bebat (stagen), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop terbuka, serta aksesori karabu (bros).

10. Pangkenang Lante Gadu
Lante Gadu berarti pakaian para menteri. Pakaian ini merupakan pakaian adat resmi dan lengkap untuk tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah.
Pakaian pria terdiri dari katopong warna hitam dengan buku bambang telu antin, lamung tutup warna gelap, kere alang, saluar belo, parabat, keris, sapu kidasanging, salepe, alas kaki sandal atau sepatu sandal, serta rantai saku.
Pakaian wanita terdiri dari leang pabarat (selendang besar bersulam), lamung kurung bini bersulam benang emas, kere alang, bebat (stagen), memakai jilbab dasar dan dalaman (muslimah), alas kaki selop terbuka, serta aksesori karabu (bros).

Pangkenang Batedung Tuntang
Batedung Tuntang atau Bakere Dua berarti memakai dua lembar sarung. Satu lembar dipakai sebagai sarung dan satu lembar sebagai kerudung. Busana ini dikenakan dalam acara tidak resmi kemasyarakatan.
Pakaian pria terdiri dari kopiah hitam, lamung kurung, kere palekat atau kere ragi bungkis, saluar belo, serta alas kaki sandal.
Pakaian wanita terdiri dari kere ragi bungkis, kebaya, kere palekat, bebat (stagen), serta aksesori karabu (bros).



