
Sedeka Orong merupakan ritual adat masyarakat Sumbawa yang masih dilestarikan hingga kini, khususnya oleh komunitas pemilik sawah di kawasan Ai Renung, Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa Besar. Tradisi budaya ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun pada bulan Oktober, menjelang musim tanam padi. Pusat pelaksanaan ritual berada di situs bersejarah Ai Renung yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur masyarakat setempat.
Ritual Sedeka Orong telah berlangsung selama sedikitnya lima generasi dan dikenal sebagai upacara adat yang sangat sakral. Upacara ini bersifat tertutup bagi orang luar dan tidak boleh didokumentasikan dalam bentuk foto maupun video. Masyarakat Sumbawa meyakini bahwa pelanggaran terhadap aturan adat ini dapat menyebabkan gagal panen atau bencana alam. Kepercayaan tersebut diperkuat oleh pengalaman masa lalu ketika ritual ini pernah ditinggalkan dan berujung pada hasil panen yang buruk.
Pelaksanaan Sedeka Orong melibatkan sekitar 30 hingga 40 pasangan suami istri pemilik sawah dan dipimpin oleh seorang dukun adat. Pemilihan dukun tidak dilakukan melalui musyawarah, melainkan berdasarkan wangsit atau petunjuk spiritual. Sejak tahun 2013, ritual ini dipimpin oleh Bapak Yusuf yang menggantikan dukun sebelumnya. Peran dukun sangat penting karena ia bertanggung jawab menjaga kelancaran upacara. Masyarakat percaya bahwa jika ritual tidak berjalan dengan baik, dukun dapat jatuh sakit dan panen akan gagal.
Lokasi ritual di situs Ai Renung dipilih karena dianggap sebagai pusat spiritual dan tempat tinggal para leluhur. Area utama ritual berada di sekitar sarkofagus batu kuno. Persiapan upacara dilakukan sejak malam hari, terutama oleh kaum perempuan yang menyiapkan nasi ketan empat warna, yaitu hitam, putih, merah, dan kuning. Ketan dimasak dengan santan dan garam, kemudian dibagi antara keperluan sesaji dan konsumsi masyarakat.
Ritual Sedeka Orong berlangsung dari pagi hingga sore hari. Sesaji yang dibawa ke lokasi ritual meliputi ketan, sirih pinang, serta ayam dengan warna bulu tertentu yang memiliki makna simbolis. Selain itu, dilakukan pembuatan obat padi dari ramuan tradisional yang dipercaya mampu melindungi tanaman dari hama dan penyakit. Seluruh peserta diwajibkan ikut serta dalam proses ini sebagai bentuk kebersamaan dan doa kolektif.
Puncak ritual ditandai dengan penyebaran sesaji ke lima penjuru wilayah yang dianggap sakral, yaitu Ai Renung, Bukit Batu Beta, Buin, Gunung Ala, dan Bukit Sangka Bulan. Prosesi ini melambangkan penyatuan roh leluhur dan keseimbangan alam. Selama prosesi berlangsung, peserta lain harus tetap diam dan tidak berbicara sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Ritual ditutup dengan makan bersama hasil olahan ayam, kecuali pemimpin ritual yang menjalani puasa. Obat padi yang telah dibuat kemudian dibawa pulang oleh peserta untuk digunakan saat musim tanam dimulai. Tradisi Sedeka Orong tidak hanya menjadi bagian dari sistem pertanian tradisional masyarakat Sumbawa, tetapi juga berfungsi sebagai sarana menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.
Hingga saat ini, Sedeka Orong masih dijaga dan dihormati oleh masyarakat Desa Batu Tering. Tradisi ini menjadi warisan budaya tak benda yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang tinggi. Keberlanjutan ritual ini menunjukkan kuatnya kearifan lokal masyarakat Sumbawa dalam menjaga keseimbangan alam dan ketahanan pangan secara turun-temurun.
Sumber: Handini Retno, 2017, Sarkofagus dan Ritual Sedeka Orong di Situs Ai Renung, Sumbawa, Naditira Widya Vol. 11.


