
Peresean: Tradisi Pertarungan Kesatria Suku Sasak di Lombok
Peresean adalah pertunjukan tradisional yang menjadi simbol kesatria bagi suku Sasak di Pulau Lombok. Tradisi ini merepresentasikan maskulinitas dan melahirkan para pepadu, yakni petarung terlatih yang pemberani dan memiliki jiwa pantang mundur.
Sejarah dan Makna Peresean
Peresean merupakan pertarungan dua lelaki kesatria yang menggunakan senjata tongkat rotan (penjali) dan perisai (ende). Pada masa dahulu, peresean menjadi wadah pelampiasan emosi para raja dan prajurit selepas memenangkan perang. Selain itu, tradisi ini digunakan sebagai metode untuk menguji keberanian, ketangguhan, dan ketangkasan para petarung. Peresean tidak diperuntukkan bagi perempuan karena dalam sejarahnya, para peserta perang di masa lampau adalah laki-laki.

Struktur Pertandingan Peresean
Dalam satu pertandingan, terdapat dua petarung yang disebut pepadu serta tiga wasit yang disebut pakembar.
-
Pakembar Tengah: mengawasi jalannya pertandingan.
-
Pakembar Pinggir: memilih para pepadu.
Pertarungan biasanya dilakukan di area lapang seperti lapangan agar ruang gerak petarung bebas dan penonton dapat menyaksikan dengan jelas.
Dalam tradisi peresean, setiap pepadu harus memiliki tiga sifat penting:
-
Wirase – kemampuan menggunakan perasaan dan hati saat bertarung.
-
Wirame – gerakan mirip tarian untuk mengurangi ketegangan dan mengelabui lawan.
-
Wirage – kekuatan fisik untuk menghadapi serangan lawan.
Selain itu, terdapat aturan khusus yang disebut awiq-awiq yang wajib dipatuhi oleh semua petarung.
Aturan dan Jalannya Pertarungan
Peresean dilaksanakan dalam lima ronde, masing-masing berdurasi tiga menit. Sebelum pertarungan dimulai, pepadu diberi arahan dan doa. Pertandingan dimulai saat wasit memukul perisai (ende) dengan rotan.
Aturan peresean meliputi:
-
Pepadu tidak boleh memukul bagian bawah tubuh seperti paha atau kaki.
-
Yang boleh dipukul adalah bagian atas seperti kepala, pundak, atau punggung.
-
Setiap pukulan memiliki nilai; pemenang ditentukan dari total nilai per ronde.
-
Pepadu dinyatakan kalah jika menyerah atau mengalami pendarahan.
Jika petarung terluka, tim medis akan mengobati dengan minyak khusus. Petarung juga dinyatakan kalah apabila penjalinya terjatuh tiga kali. Setelah pertandingan, para pepadu wajib saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda damai.
Mantra dan Persiapan Spiritual
Para pepadu biasanya membekali diri dengan mantra-mantra yang dipercaya mampu memberikan perlindungan. Mantra ini diwariskan turun-temurun dari para sesepuh atau dari teks-teks kuno yang digunakan sejak zaman dulu.
Awiq-Awiq: Aturan Tradisi Peresean
Awiq-awiq bersifat mengikat dan harus dipatuhi oleh pepadu maupun pakembar. Pelanggaran aturan dapat mengakibatkan peringatan hingga diskualifikasi, sebagai bentuk pendidikan agar petarung memahami etika dan teknik bertarung.
Pakaian dan Perlengkapan Peresean
Pakaian pepadu terdiri dari:
-
Celana pendek
-
Kain penutup celana
-
Kain ikat kepala
Petarung tidak mengenakan baju.
Senjata utama adalah tongkat rotan dan perisai. Pertunjukan biasanya diiringi musik tradisional seperti gong, kendang, rincik, simbal, suling, dan kanjar.
Lokasi Menyaksikan Peresean
Wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan peresean di beberapa lokasi, terutama di:
-
Desa Adat Sade, Lombok Tengah
-
Desa Darek dan berbagai event pariwisata di Lombok
Kedua tempat ini sering mengadakan pertunjukan peresean sebagai atraksi budaya yang menarik bagi wisatawan lokal maupun internasional.


