
Sejarah Rimpu di Bima dan Dompu
Rimpu sudah dikenal sejak Islam masuk ke Kesultanan Bima pada tahun 1640. Pada masa itu, Sultan Bima mewajibkan perempuan menutup aurat dan laki-laki menjalani sunat. Karena pakaian masih terbatas, masyarakat memanfaatkan sarung Tembe Nggoli sebagai penutup aurat.
Apa itu Tembe Nggoli?
Tembe Nggoli adalah kain tenun khas Bima dan Dompu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kain ini terbuat dari benang kapas atau katun dengan warna cerah dan motif khas tenun tangan. Bagi masyarakat suku Mbojo, Tembe Nggoli merupakan warisan budaya yang dijaga turun-temurun. Sebagian besar perempuan suku Mbojo masih menenun menggunakan alat tradisional Gedogan, yaitu alat tenun yang dipangku saat penenun duduk selonjor.
Rimpu sebagai hijab tradisional Suku Mbojo
Bagi masyarakat Bima dan Dompu, Rimpu digunakan sebagai hijab yang menutupi kepala hingga lutut. Rimpu dipadukan dengan Sanggentu, yaitu potongan kain yang menutupi bagian bawah tubuh dari pinggang sampai kaki, mirip sarung.

Makna Rimpu bagi perempuan Mbojo
-
Wanita yang sudah menikah memakai Rimpu dengan menutupi seluruh bagian atas tubuh kecuali wajah, mirip hijab.
-
Perempuan yang belum menikah memakai Rimpu dengan hanya menyisakan bagian mata, mirip cadar.
Menurut masyarakat Mbojo, “kalau belum nikah, Rimpu sengaja dipasang seperti cadar supaya laki-laki penasaran.”
Tembe Nggoli untuk laki-laki
Laki-laki suku Mbojo juga menggunakan Tembe Nggoli, namun dengan cara berbeda. Teknik mengenakannya disebut katente, yaitu membelitkan sarung di pinggang hingga menutupi lutut.


