
Bagi masyarakat Suku Sasak di Lombok, ares adalah sajian wajib setiap kali mengadakan hajatan besar, seperti pernikahan, khitanan, gotong royong, hingga perhelatan adat yang disebut “Begawe”. Dalam konteks budaya, keberadaan ares bukan sekadar pelengkap menu, tetapi simbol kebersamaan dan jamuan kehormatan bagi tamu. Karena sifatnya yang erat dengan acara adat, ares relatif jarang dijumpai di rumah makan biasa dan lebih sering disajikan di kampung-kampung.
Traveler yang ingin mencicipi sayur ares khas Lombok bisa mencarinya di desa-desa wisata yang masih kuat mempertahankan tradisi kulinernya. Salah satu tempat yang kerap menyajikan ares adalah Desa Kembang Kuning di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, yang dikenal sebagai desa wisata bernuansa alam dan budaya Sasak.
Bahan Utama: Batang Pisang Kepok
Keunikan ares dimulai dari bahan bakunya, yaitu batang pohon pisang kepok, khususnya bagian terdalam (umbinya) yang masih muda dan lunak. Bagian ini dipilih karena teksturnya lembut setelah dimasak dan mampu menyerap bumbu dengan baik. Batang dalam tersebut kemudian diiris tipis-tipis hingga membentuk serat-serat kecil yang nantinya menjadi “sayur” ares.
Irisan batang pisang lalu dicampur dengan garam dan sedikit air untuk mengurangi getah sekaligus membuat teksturnya lebih lembut. Proses ini dilanjutkan dengan diremas-remas hingga ukurannya mengecil dan seratnya mulai melunak. Tahap pemrosesan awal ini penting karena menentukan tekstur akhir ares—tidak alot, namun tetap kenyal saat dimakan.

Proses Memasak Sayur Ares
Setelah melalui proses perendaman dan peremasan, irisan batang pisang (ares) dicuci bersih untuk menghilangkan sisa garam dan getah. Ares kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih dan direbus hingga mulai empuk. Pada tahap ini, bumbu yang sudah dihaluskan ditambahkan ke dalam rebusan.
Bumbu ares umumnya terdiri dari jahe, kemiri, laos (lengkuas), bawang putih, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan santan. Perpaduan rempah ini memberikan cita rasa gurih, pedas manis, dan beraroma khas masakan Nusantara. Setelah santan masuk dan tekstur ares terasa kenyal, sayur dimasak hingga mendidih kembali dan bumbu meresap, lalu siap disajikan selagi hangat.
Cita Rasa dan Karakter Ares
Secara rasa, ares menawarkan sensasi unik: tekstur batang pisang yang kenyal dan sedikit berserat berpadu dengan kuah santan gurih berbumbu rempah dan cabai. Rasa pedas manis dari perpaduan cabai dan bawang membuatnya pas disantap dengan nasi hangat, ayam bakar, atau lauk khas Lombok lainnya seperti ayam taliwang dan sate rembiga.
Bagi yang baru pertama kali mencoba, tekstur ares mungkin mengingatkan pada sayur berserat seperti pepaya muda atau nangka muda, namun dengan aroma dan sensasi kunyahan yang berbeda. Inilah yang membuat ares menarik sebagai pengalaman kuliner baru, terutama untuk traveler yang senang mencoba bahan-bahan “tidak biasa”.
Manfaat Kesehatan Sayur Ares
Selain enak, ares juga menyimpan berbagai kandungan gizi dari batang pisang dan santan kelapa. Batang pisang umumnya kaya serat, membantu menjaga kesehatan pencernaan dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Kandungan kalium dan vitamin tertentu di dalamnya mendukung fungsi tubuh, termasuk keseimbangan cairan dan metabolisme.
Dengan indeks glikemik yang cenderung rendah, ares relatif lebih aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dibandingkan hidangan tinggi karbohidrat sederhana, selama tetap memperhatikan porsi dan asupan lauk pendamping lainnya. Kombinasi serat, vitamin, dan rempah-rempah juga membuat hidangan ini cocok dijadikan menu unik yang tidak hanya lezat, tetapi sekaligus membantu menjaga daya tahan tubuh.


