
Di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, NTB, terdapat sebuah tradisi adat yang disebut Ngayu‑Ayu. Ritual ini bukan sekadar upacara tahunan, tapi sebuah ungkapan rasa syukur, doa, dan pelestarian alam yang telah diwariskan turun‑temurun oleh masyarakat Sembalun Lombok Timur, NTB sejak sekitar 600 tahun yang lalu. Bagi yang ingin mengenal budaya Sasak yang autentik, Ngayu‑Ayu adalah salah satu ritual yang berkaitan dengan dunia spiritual dan kearifan lokal masyarakat pegunungan Lombok.
Apa Itu Ngayu‑Ayu?
Ngayu‑Ayu adalah ritual adat yang dilaksanakan sekali setiap tiga tahun oleh masyarakat Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur. Menurut cerita turun‑temurun, Ngayu‑Ayu awalnya muncul sebagai bentuk syukur dan permohonan perlindungan dari wabah penyakit dan bencana alam yang pernah melanda masyarakat Sembalun di masa lalu. Leluhur Sembalun percaya bahwa keberlangsungan hidup mereka sangat bergantung pada keharmonisan dengan alam, terutama Gunung Rinjani, yang dianggap sebagai sumber kehidupan dan penguasa alam.
Dalam bahasa Sasak, Ngayu‑Ayu juga diartikan sebagai bentuk “merawat keindahan” atau menjaga keseimbangan alam dan kehidupan di Sembalun. Ngayu‑Ayu secara harfiah berarti “upacara mengumpulkan air dari 13 mata air sebagai upacara adat yang utama”. Ritual ini juga menjadi simbol pelestarian tradisi leluhur dan keutuhan Gumi Sembalun (tanah Sembalun).
Makna yang Terkandung dalam Ngayu‑Ayu
Ngayu‑Ayu bukan hanya soal upacara, tapi juga mengandung nilai‑nilai luhur yang masih relevan hingga kini:
- Rasa syukur atas hasil bumi, terutama padi merah (pade abang) yang menjadi tanaman khas Sembalun.
- Perlindungan dari bencana dan penyakit, karena masyarakat percaya bahwa ritual ini menjauhkan desa dari bala bencana dan gangguan alam.
- Penghormatan terhadap leluhur dan alam, khususnya Gunung Rinjani yang dianggap sebagai sumber kehidupan dan penguasa alam oleh masyarakat Sembalun.
- Pelestarian alam dan ekosistem, karena Ngayu‑Ayu mengajarkan pentingnya menjaga mata air, hutan, dan keseimbangan lingkungan.
Rangkaian Ritual Ngayu‑Ayu
Ritual Ngayu‑Ayu berlangsung selama dua hari dan melibatkan berbagai tahapan yang penuh simbolisme.
1. Pengambilan dan Pengumpulan Air dari 13 Mata Air
Ritual dimulai dengan pengambilan air dari 13 mata air yang mengalir di wilayah Sembalun oleh para pemangku adat. Air tersebut dikumpulkan di Berugak Desa Sembalun Bumbung dan didiamkan semalam.
Maknanya: simbol rasa syukur atas limpahan air dan hasil bumi, serta penyatuan sumber kehidupan di Sembalun.
2. Pembacaan Lontar dan Sesampang
Pada malam harinya, para pujangga Sasak membaca lontar Jatiswara di berugak desa. Pemangku adat juga menghaturkan sesampang, yaitu pemberitahuan spiritual kepada leluhur dan penguasa alam bahwa upacara akan dilaksanakan.
Maknanya: meminta izin dan restu dari leluhur dan Tuhan, serta menjaga kesinambungan hubungan manusia dengan alam.
3. Penyembelihan Kerbau dan Penanaman Kepala

Kerbau hitam tanpa cacat disembelih oleh keturunan kiai adat/mangku, bukan oleh sembarang orang. Kepala kerbau dipisahkan dari badan, dipancung tiga kali, lalu ditanam di ujung desa menghadap barat daya sebagai Pantek (pasak bumi).
Maknanya: kepala kerbau menjadi “pasak” yang melindungi Desa Sembalun dari bala bencana dan gangguan gaib.
4. Pemberangkatan Air dan Tarian Tandang Mendet
Keesokan harinya, air dari 13 mata air dibawa dari berugak menuju lapangan upacara oleh para tokoh adat dan masyarakat, diiringi tarian Tari Tandang Mendet. Tarian ini melambangkan tujuh pasang suami istri pertama di Sembalun dan menjadi simbol keberhasilan menjaga padi dari hama.

5. Upacara Puncak: Mapakin
Upacara puncak disebut Mapakin, diawali dengan silaturahmi antar sesepuh adat dan tamu undangan dari berbagai daerah di Nusantara. Dilakukan tiga kali lemparan ketupat dengan makna simbolis.
- Lemparan pertama (Tanggal Lime / 5): melambangkan kesempurnaan shalat lima waktu.
- Lemparan kedua (Tanggal Lime Olas / 15): melambangkan kesempurnaan bulan purnama.
- Lemparan ketiga (Tanggal Selae / 25): melambangkan kesempurnaan ajaran 25 Nabi dan Rasul.

6. Perang Pejer dan Penumpahan Air
Dilakukan Perang Pejer (perang penolak bala), yaitu peragaan perang tradisional untuk menolak bencana dan gangguan. Air dari 13 mata air kemudian ditumpahkan ke Kali Pusuk sebagai simbol penyatuan bumi, air, hutan, dan alam lingkungan.
Maknanya: menyatukan elemen alam dan memperkuat keseimbangan alam di sekitar Sembalun.
7. Doa Selamat dan Makan Bersama
Diakhiri dengan pembacaan doa selamat oleh para kiai adat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam. Masyarakat kemudian makan bersama hasil olahan daging kerbau, ayam, dodol beras merah, dan jajanan lainnya.
Maknanya: mempererat kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang dibagikan secara kolektif.
Bahan dan Persembahan Khas Ngayu‑Ayu
Beberapa bahan yang digunakan dalam Ngayu‑Ayu juga memiliki makna khusus:
- Kerbau hitam: hewan suci yang dianggap murni, sebagai persembahan terbesar untuk perlindungan desa.
- Air dari 13 mata air: simbol kehidupan, kesuburan, dan penyatuan sumber daya alam Sembalun.
- Beras merah (pade abang): tanaman khas Sembalun yang hanya tumbuh di tanah subur lereng Rinjani, sebagai simbol hasil bumi yang disyukuri.
- Ketupat: makanan utama dalam upacara, melambangkan kesucian dan keseimbangan hidup.
Ngayu‑Ayu sebagai Warisan Budaya dan Atraksi Wisata
Ngayu‑Ayu bukan hanya milik masyarakat Sembalun, tapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara yang patut dilestarikan. Pemerintah daerah dan provinsi NTB bahkan telah mendorong agar Ngayu‑Ayu diusulkan sebagai warisan budaya nasional
Bagi wisatawan yang tertarik dengan budaya dan spiritualitas, Ngayu‑Ayu adalah pengalaman yang sangat khas:
- Bisa menyaksikan langsung prosesi adat yang sakral dan penuh khidmat.
- Melihat tarian tradisional seperti Tari Tandang Mendet yang mengiringi prosesi.
- Menikmati kuliner khas Sembalun seperti dodol beras merah, ketupat, dan olahan daging kerbau.


